
Mengapa Cara Menaruh Pupuk BisaMenentukan Keuntungan Petani Kentang?
Bagi sebagian besar petani di dataran tinggi, kentang adalah komoditas andalan yang selalu punya pasar menjanjikan. Namun di beberapa daerah seperti Jawa Tengah, produktivitas kentang sempat dikabarkan menurun karena faktor budi daya yang kurang optimal. Salah satu hal krusial yang sering luput dari perhatian adalah teknis pemupukan.
Sebuah riset mencoba mengulik hal ini dengan melakukan eksperimen langsung di Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Banjarnegara untuk melihat apakah cara mengaplikasikan pupuk harian benar-benar berpengaruh pada hasil panen dan dompet petani. Hasilnya cukup menarik: hanya dengan mengubah cara menaruh pupuk, efisiensi biaya dan keuntungan bisa berubah.
Eksperimen Lapangan: Metode Sebar vs Metode Tugal
Dalam riset tersebut, para peneliti membandingkan dua metode pemupukan NPK yang umum di lapangan:
- Metode Sebar: Pupuk NPK disebar langsung di atas bedengan, lalu dicangkul dan ditutup mulsa. Cara ini biasanya dipilih karena praktis dan hemat waktu.
- Metode Tugal: Pupuk dimasukkan ke dalam lubang khusus yang dibuat dengan jarak sekitar 10 cm dari tanaman, dengan kedalaman 5–10 cm, lalu ditutup tanah.
Secara visual, kedua metode ini sebenarnya menghasilkan pertumbuhan tanaman yang mirip. Tinggi tanaman dan jumlah daun kentang terlihat tidak jauh berbeda selama masa pertumbuhan.
Perbedaan Nyata Saat Panen
Meskipun tanamannya terlihat sama dari luar, perbedaan besar baru terlihat saat masa panen tiba. Nutrisi pada metode tugal ternyata jauh lebih fokus dan efisien diserap oleh akar tanaman. Alhasil, plot lahan yang menggunakan metode tugal mencatatkan hasil produksi umbi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan plot lahan yang menggunakan metode sebar.
Hitung-hitungan Ekonomis
Dari sisi bisnis atau analisis finansial, metode tugal juga mencatatkan angka yang lebih sehat:
- Rasio Keuntungan (B/C Ratio): Metode tugal mencatatkan nilai B/C sebesar 0,81, sedangkan metode sebar berada di angka 0,68. Ini menunjukkan bahwa modal yang keluar pada metode tugal memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik.
- Nilai Manfaat Tambahan (MBCR): Nilai Marginal Benefit Cost Ratio dari peralihan metode ini mencapai angka 8,11, yang artinya perubahan kebiasaan ini sangat logis dan menguntungkan untuk jangka panjang.
Selain itu, metode tugal juga dinilai lebih aman terhadap risiko pasar. Jika sewaktu-waktu harga kentang turun atau terjadi penurunan produksi akibat cuaca buruk, metode tugal memiliki batas toleransi kerugian yang lebih tinggi (44,87%) dibandingkan metode sebar (40,49%).
Sumber : Sahara, D. & Wulanjari, M. E. (2022). Cara Pemupukan yang Menguntungkan Usaha Tani Kentang di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 27(4), 473-480. / DOI: doi.org